Resensi Film 99 Cahaya di Langit Eropa

00.00



Sebuah karya apik dalam pendeskripsian pengalaman dan perjalanan hidup mampu dipersembahkan oleh sang penulis Hanum salsabila rais dan Rangga almahendra. Novel nonfiksi yang diluar dugaan mampu membius pembaca untuk turut hanyut dalam setiap untaian kata yang dituturkan dengan gaya bahasa personal yang mudah dicerna oleh pembaca. Sehingga membawanya mampu dan pantas dinobatkan kedalam deretan Novel Best Seller Islami Indonesia. 

        Tidak hanya berakhir sampai disitu, dengan cerita yang berkualitas dan panorama alam yang indah membuat novel ini sangat layak untuk diangkat kelayar lebar. Kini apa yang telah terdeskipsikan indah dalam untaian kata pada novel seakan menjadi gambaran realisasi citra nan indah, nyata dan menakjubkan. 


           Dengan judul yang sama dengan novelnya tepat tanggal 5 desember 2013 film ini resmi ditayangkan diseluruh bioskop di Indonesia. Menceritakan tentang perjalanan hanum dan suami (Rangga) dalam menapaki cahaya-cahaya gemerlap Islam di benua Eropa yang kini nampak samar bahkan redup. Menjadi sebuah perjalanan yang membuatnya menemukan banyak hal lain yang jauh lebih menarik dari sekedar menara Eiffel,Tembok Berlin, Konser Mozart, atau Coloseum di Roma.

          Hanum yang seorang reporter sebuah stasiun Tv ternama di Jakarta yang kemudian memilih untuk meninggalkan karirnya yang cemerlang demi menemani sang suami menimba ilmu dibumi Eropa. Memang seperti itulah yang seharusnya dilakukan oleh seorang istri, patuh dan taat pada suami, selalu saling mengisi dan menemani dalam segala pasang surut kehidupan yang diarungi. 

          Sikap hanum ini sedikit mengingatkan saya pada sosok ibu Ainun yang juga melakukan hal yang sama ketika harus menemani bapak B.J Habibi menetap di jerman. Bukan karena ibu ainun tidak memiliki pekerjaan di Indonesia dan hanya seorang Ibu rumah tangga, bahkan beliau saat itu tercatat sebagai seorang dokter anak yang diperhitungkan kinerjanya. Namun demi menjalani kewajiban sebagai istri yang berbakti kepada suami, beliau cabut segala atribut kebesarannya di Indonesia dan menjadi ibu rumah tangga yang baik dengan kehidupan dan tempat tinggal seadanya di Jerman.

       Sungguh sosok inspiratif yang patut dicontoh dari kedua wanita hebat ini, Hanum dan ibu Ainun. Keduanya pun kerap membuat saya iri karena memiliki pendamping hidup yang luar biasa hebatnya. Semoga disuatu hari nanti sayapun dipertemukan dengan jodoh yang sehebat mereka ( Rangga Almahendra dan B.J Habibi). Amin...


     ( Rangga yang tetap menyempatkan diri membaca Al-quran ditengah ketenangan ruang perpustakaan )

 ( salah satu adegan paling menakjubkan, dimana Rangga mengumandangkan adzan 
dari atas menara Eiffel, Subhanallah....)
      Pengalaman yang sangat tak terlupakan ketika mendapat kesempatan untuk menonton premiernya yang artinya bisa menonton lebih dahulu film ini sebelum ditayangkan serantak dibioskop indonesia. Entah kata-kata apa lagi yang dapat diucapkan untuk mengekspresikan kepuasan terhadap film ini. Tawa, tangis, ilmu, dan pesan moril semua tersaji apik hampir tanpa celah. So greats cinema...

       Setiap scene yang tersajikan selalu memanjakan mata penonton. Indahnya kota wina yang tertata rapi dengan segala bentuk kedisiplinannya, Paris sebagai pusat peradaban Eropa yang ternyata memiliki sejuta misteri kejayaan islam, Cordoba dan Istambul yang pasti semakin indah lagi untuk dinikmati panoramanya walau baru akan tersaji nanti diPart2. Sepanjang film diputar penonton terus diajak jalan-jalan mengelilingi keindahan kota-kota dengan bangunan klasik nan-indah.

(bukit kahlenberg, saksi bisu kekalahan tentara Ottoman Turki di Eropa barat)

         Selain itu film ini pun cukup prestisi diperankan oleh aktor dan aktris ternama yang sudah tidak diragukan lagi kemampuannya. Sebagai pemeran utama ada Hanum (acha septriasa) seorang yang pintar, mempunyai keingintahuan yang tinggi, walau kadang sedikit mudah emosi, disini acha berhasil memerankannya. Rangga (Abimana) yang di deskripsikan sebagai seorang yang pintar, berpendirian, penyabar, penyayang, dan memiliki keimanan yang kuat tentunya, dan sejauh ini abimana sangat pas melakoni aktingnya tersebut. sungguh beruntung menjadi Hanum dan Rangga diberikan kesempatan mendapat pengalaman dan pelajaran hidup seperti itu dari Allah. 

  (kemesraan Hanum dan Rangga di depan sungai Danube yang indah dan legendaris 
kerap kali membuat penonton iri)

         Sosok lain yang dihadirkan tak kalah mempesonanya. Saling melengkapi satu sama lain dalam setiap adegan yang dimainkan. Stefan (nino fernandez) seorang atheis yang kontroversial sekaligus lucu, karena kerap kali dialog yang dimainkannya mengundang tawa penonton yang menyaksikan. Salah satunya perkataanny ayang menggelikit adalah ketika ia melayangkan pertanyaan kepada Rangga “ aku tau kantor asuransi yang sering aku bayarkan preminya, kalau tuhan kamu dimana kantornya? ” seusai kata-kata itu terucap seisi bioskoppun tertawa. Belum lagi tingkah-tingkah konyol lainnya yang selalu mampu mengundang tawa setiap penonton yang menyaksikan. Ada pula sosok islam fundamental, Khan (alex abad) teman rangga yang berasal dari pakistan yang tak pernah kompromi jika sudah menyangkut ibadah.

       Fatma (Raline shah) sebagai teman Hanum, oh tidak nampaknya lebih tepat disebut sahabat dan juga tour guidenya di Wina. Mengapa lebih tepat dikatakan sahabat dan bukan teman, karena Fatma benar – benar mengajarkan banyak hal kepada hanum. Memberikan sebuah esensi kehidupan berharga yang tak mampu diberikan oleh hanya sekedar teman. Maarja (Marissa Nasution) yang nampaknya sangat mengagumi dan menyukai Rangga. Ayse (Gecchae) sosok muslimah cilik yang sangat mengagumkan.  Selain itu, ada juga penampilan khusus dari  designer muslimah, Dian Pelangi, dan juara X Factor Indonesia, Fatin Shidqia Lubis.

( seluruh cast Film 99 cahaya Dilangit Eropa)

         Ada juga Marion Latimer (Dewi Sandra) seorang sejarahwan dan peneliti dari Arab World Institute Paris yang membuka lebar pengetahuan dan menguak segala misteri kebesaran islam dibumi eropa. Dari perjalanan menjelajahi Paris bersama Marionlah Hanum menemukan fakta-fakta yang mencengangkan yang belum pernah didengar sebelumnya, diantaranya :
  • Sebuah kali grafi pseudo kufic pada kerudung yang dikenakan bunda Maria dalam lukisan di Museum Louvre yang menggambarkan dirinya yang sedang menggendong bayi yesus (vierge a i’Enfant-The Virgin and the child: ugolino di Nerio 1315-1320) jika dilihat secara seksama maka kali grafi itu bertuliskan lafadz Tauhid yaitu Laa ilaa ha illAllah...  
 
( sebuah lukisan bunda maria yang mengenakan kerudung berlafadzkan kalimat tauhid) 
  • Kalimat Tauhid itu seperti itu dapat pula dijumpai pada jubah kebesaran yang dipakai Raja Roger II pada saat pengangkatannya sebagai Raja dan kini jubah itupun masih tersimpan rapi di Schatzkammer, Museum Harta kerajaan di komplek istana Hofburg Wina.
  • ·      Sebuah monumen pertama yang dibangun Napoleon Bonaparte yang bernama Arc de Triomphe du Carrousel sepulang dari ekspansinya kemesir. Ada apa dengan monumen yang terkenal ini? Jika ditarik lurus kearah timur tenggara Paris maka akan dijumpai Swis, Italia, Yunani, menyeberangi Laut Mediterania, lalu akan bertemu Mesir,lalu Arab saudi,dan... Mekkah. Ya, dan ternyata Napoleon sengaja membuat monumen itu searah dengan arah Kiblat umat muslim didunia yaitu Ka’bah di Mekkah. Maka garis lurus yang dirancang oleh Napoleon itu dikenal dengan voie Trionphale (jalan menuju kemenangan) bagi non muslim yang tidak tau mungkin penamaan ini hanya sebuah simbol kemenangan yang dicapai Napoleon sang penakluk eropa, namun bagi muslim ini lebih dari sekedar itu. Seperti ada pesan yang ingin disampaikan Napoleon atas karyanya ini. Jalan kemenangan ini seakan bermaksud untuk kembali ke Mekkah dimana terdapat bangunan paling impresif didunia yaitu Ka’bah. 

     ( perjalanan Hanum dan Marion menyusuri Paris - didepan monumen Arc de Triomphe du Carrousel )

           
    ( jalan lurus menuju Arc de Triomphe du Carrousel 
    sebuah arsitektur kota yang menakjubkan yang konon serah menghadap Ka'bah)
     
           Dari fakta-fakta ini seakan mengantarkan kita pada sebuah persepsi apakah Napoleon adalah seorang muslim? saya pun menjadi diingatkan kembali akan penuturan ustad yusuf mansur yang pernah mengungkapkan bahwa Napoleon bonaparte adalah seorang muslim. Awalnya saya bingung dengan ungkapan tersebut namun dengan ditambah bukti-bukti nyata yang digambarkan oleh film ini dan beberapa artikel penguat yang dituliskan dalam buku Satanic Voices - Ancient and Modern karya David Musa Pidcock tepatnya pada halaman 61, dan Bonaparte et Islam, tulisan Christian Cherfils (prancis). semakin menambah keyakinan bahwa napoleon adalah seorang muslim. wallahu'alam...

              Ada pula fakta-fakta unik yang diungkapkan difilm ini yaitu tentang Cappucino yang sebenarnya bukan berasal dari Italy melainkan dari Turki dan sebuah restoran unik yang menerapkan sistem “All You Can Eat. Pay as You Wish” yang berarti makan sepuasnya bayar seikhlasnya. Mana mungkin ya ada restoran yang bertahan dengan cara macam itu, namun kenyataannya ada di wina. 

     ( Pemilik restoran der wiener deewan)

             Nama restorannya Der Wiener Deewan. Sang pemilik Natalie Deewan percaya bahwa sisi terindah dari manusia adalah kedermawanan, maka ia tidak pernah takut bangkrut dan yakin Rezeki itu datangnya dari Allah. Subhanallah, lagi-lagi mendapat pesan moral yang bagus. Belum lagi kisah Fatma diawal film pada saat negaranya (Turki) diperolok-olok turis asing namun malah membalasnya dengan membayar semua pesanan makanan turis tersebut. Ini membuat saya sangat setuju dengan paparan Hanum dalam buku yang menjelaskan bahwa lima pilar inti ajaran islam pun harus tersuguhkan dengan akhlaqul karimah sehari-hari dan bukan hanya dimaknai sebagai tata cara ibadah .

           Keteladanan yang diberikan Fatma tidak hanya mengagumkan dimata Hanum namun juga membuka mata saya akan sebuah esensi islam yang indah yang benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh alam. Sebuah makna kesabaran yang tidak hanya berujung dilidah saja. Menjalani perintah Allah dan Menjauhi larangannya bukan hanya sekedar menjadi kewajiaban namun juga kebutuhan dan tentunnya dari film ini mengantarkan saya untuk bertekad dapat menjadi Agen Muslim yang baik. Dengan sikap ini pula Fatma mencoba memperbaiki kesalahan leluhurnya terdahulu Kara Mustafa Pasha (Panglima tentara ottoman Turki) yang ingin menahlukan Eropa namun dengan cara yang salah. Jadi ingin sekali tau dan bertemu dengan sosok asli dari wanita solehah ini. 

        Sepulang dari perjalan Hanum dan Rangga dari Paris, Hanum tak lagi dapat menghubungi Fatma. Fatma pun sudah tidak ada di tempat tinggalnya. Dari paket yang dititipkan Marion pada Hanum untuk Fatma diketahui bahwa Ayse mengidap penyakit kanker. Bersamaan diketahuinya hal itu Fatmapun seakan menghilang tak ada kabar dan beritanya. Apa yang terjadi pada Fatma dimana keberadaannya kini, dan apa lagi yang akan dikupas oleh Hanum dan Rangga diexpedisi selanjutnya? Semua terangkum dan akan dijelaskan pada Part2 nya. Maka saya sangat penasaran dan exited menunggu kembali diluncurkannya film 99 cahaya dilangit Eropa Part2.   

         Timbul decak kagum yang mendalam akan perjalanan religi kehidupan pasangan suami istri ini (Hanum dan Rangga). Dimana justru pendidikan dan hidayah keimanan itu didapatkan dari kehidupan belahan dunia yang bukan mayoritas muslim. Bukti begitu banyak Allah tebarkan pendidikan dimuka bumi ini untuk dapat difikirkan oleh manusia dan menjadi pelajaran dalam menapaki kehidupan didunia ini, dan kesemua cerita mampu disampaikan dengan penuh kesan moril yang membangun.

        Maka tidak berlebihan bila Presiden kita bapak Susilo Bambang Yodoyono mengatakan bahwa film ini adalah sebuah karya apik yg mampu padukan keindahan dialog dan falsafah secara natural dan saya sangat setuju dengan penilaian beliau.

          Begitu banyak nilai kehidupan dan rahasia-rahasia peradaban islam dibumi eropa yang disuguhkan dan dijelaskan secara gamblang dalam film ini. Membuat siapa saja yang melihatnya merasa kaget sekaligus berdecak kagum. subhanallah, film ini benar-benar contoh film yang seharusnya ada di Indonesia. Walau ada sedikit adegan adegan yang tereduksi dari novel ke film nya, namun ini menjadi hal yang rasional untuk sebuah film yang diangkat dari novel. Mengingat kondisi yang ditemui dilapangan bermacam-macam namun yang terpenting disini adalah esensi utama pesan yang ingin disampaikan tetap terjaga dan tersampaikan dengan baik dan pas.  


            Film yang baik adalah film yang tidak hanya mampu membuat penontonnya tertawa atau menangis atau bahkan hanya sekedar teriak-teriakan karena ketakutan saja. Namun juga mampu memberi pesan positiv menuju perbaikan sipenontonnya. ada bekal dan ilmu yang bisa menjadi oleh-oleh untuk dibawa pulang penonton seusai menyaksikan film tersebut, dan sejauh ini film 99 cahaya dilangit eropa adalah film yang baik. Mampu membangun keimanan, semangat, kebersamaan, ketoleransian, dan keharmonisan berbangsa dan bernegara. Maka tidak heran dalam kurun waktu kurang dari satu bulan telah mencapai 700.000 penonton. Semoga semakin banyak film berbobot yang dapat membangun mental bangsa lebih baik seperti ini. Maju terus perfilman Indonesia, Maju terus sineas Indonesia.
    ================================================================
    Genre : Drama Islami
     
    Produser     : Yoen K, Ody Mulya Hidayat
    Produksi     :
    Maxima Pictures
    Sutradara   :
    Guntur Soeharjanto
    Homepage
      www.maximapictures.com

    Cast:
    Acha Septriasa, Abimana Aryasetya, Raline Shah, Nino Fernandez, Dewi Sandra, Marissa Nasution, Alex Abbad, Geccha Tawara, Dian Pelangi, Fatin Shidqia Lubis, Hanum Salsabiela Rais.


    " dan jangan lupa menonton Film nya dibioskop kesayangan anda... ^_^ "

    Follow 99 Cahaya on Twitter: https://twitter.com/Film99Cahaya
    Like 99 Cahaya on Facebook: https://www.facebook.com/99CahayaOffi…
    See Behind The Scene 99 Cahaya on Instagram: http://instagram.com/99cahayaofficial
    =================================================================
    sumber referensi : novel 99 cahaya dilangit eropa, Film 99 cahaya dilangit eropa, okezone.com, 
                                detik.com, http://99cahaya.com, funpage dan twitter 99 cahaya dilangit eropa,







     





You Might Also Like

4 komentar

  1. bagus banget kata-katanya, resensi yang sangat jelas dan detail. jadi pengen nonton filmnya cpt-cpt keburu dah gd di bioskop. thaks untuk reverensinya...good jobb :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimaksih ya... iya segera tonton ya dibioskop kesayangannya ^_^

      Hapus
  2. for more response can check out in faceboook
    link : https://www.facebook.com/ika.adya.mecca/posts/10201173116229241?ref=notif&notif_t=like

    thanks before ^_^

    BalasHapus
  3. film yang bagus dan menarik yang menebarkan ilmu didalamnya. proud :)

    BalasHapus

silahkan jika ada saran dan masukan yang membangun...

attention

attention

lets Follow by Email

Translate