my inspiration

16.23


my women inspiration





Siapa sangka kalau artis Oki Setiana Dewi ternyata sering berkunjung ke penjara wanita dan rumah sakit jiwa untuk memberikan motivasi sekaligus mendapat inspirasi di sana? Itu merupakan salah satu dari gaya hidup Oki yang menarik dan inspiratif. Oki juga memiliki perspektif yang menarik dan mendalam tentang kehidupan. Karenanya, kisah hidupnya menarik dan inspiratif untuk diketahui. Tak heran jika buku pertamanya, "Melukis Pelangi", yang berkisah tentang kehidupannya itu menjadi buku best seller.

Oki baru saja meluncurkan buku keduanya yang berjudul Sejuta Pelangi. Beberapa hari ini, ia sibuk dalam acara launching dan promo buku keduanya itu. Di sela-sela kesibukannya itu, Redaksi Mizan.com berkesempatan menemuinya dan melakukan wawancara eksklusif dengannya. Berikut wawancara lengkapnya.

Oki punya banyak kesibukan, salah satunya saat ini sedang sibuk melakukan launching buku terbaru, Sejuta Pelangi. Bagaimana Oki membagi waktunya?
Saya hanya hanya mengisi acara di weekend saja, yaitu hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Senin-Kamis adalah waktu saya untuk diri saya sendiri. Saya mengisinya dengan belajar, les, dan menghabiskan waktu di Rumah Qur'an di Depok. Setelah lulus kuliah dan tidak ada syuting tahun ini, saya sengaja membagi waktu Senin-Kamis untuk diri sendiri dan Jumat-Minggu untuk orang lain, baik itu dengan mengisi seminar, talkshow, maupun bedah buku. Karena kalau tidak seperti itu, saya akan seperti lilin, berusaha menyinari yang lain tapi dirinya terbakar.


Lalu, apa aktivitas Oki saat ini?
Selain launching buku terbaru, saya bersama Sahabat Oki Setiana Dewi (SOSD) juga mengajar mengaji di Penjara Wanita Tangerang setiap Sabtu jam 08.00-10.00 WIB. Program ini awalnya hanya dilakukan oleh beberapa orang saja, tetapi, alhamdulillah, sekarang sudah banyak SDM dan donatur yang terlibat, sehingga bisa terus berjalan hingga sekarang. Saya ingin segala bentuk pertemuan dengan saya lebih dari sekadar pertemuan antara penggemar dan artis idolanya. Saya sudah memiliki SDM yang dinamakan SOSD tadi. Jadi SDM itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Ke depannya,insya Allah, program pengajian ini akan diadakan di setiap kota yang memiliki SOSD. Mohon doanya saja untuk semuanya.


Bagaimana proses kreatif Oki hingga melahirkan buku kedua ini? Apa Oki sengaja mencari inspirasi untuk menulis buku ini, atau inspirasi itu mengalir begitu saja?
Dalam proses penulisan, saya tidak mencari inspirasi. Semuanya berawal dari hobi menulis diaryAlhamdulillah, Allah juga mengizinkan saya untuk melihat bumi Allah lainnya. Setiap saya berjalan ke bumi Allah itulah saya berkesempatan untuk bertemu dengan orang baru dan melihat tempat baru. Semua hal itu sangat sayang jika tidak ditulis, karena hikmahnya akan tercecer. Karena itu juga tulisan saya di buku ini adalah tulisan-tulisan ringan yang setiap orang sebenarnya bisa mengalami hal tersebut. Hanya saja, mereka tidak menyadari hikmahnya. Misalnya saja ketika Oki secara tidak sengaja berkunjung ke Rumah Sakit Jiwa di Bengkulu. Semuanya tidak disengaja. Karena itulah, inspirator dalam hidup saya adalah semua orang yang saya temui, karena mereka adalah guru-guru saya, baik itu anak kecil, orang tua, orang yang dipenjara, dll.


Apa pesan yang ingin disampaikan oleh Oki di buku kedua ini?
Jika di buku pertama saya, Melukis Pelangi, saya bercerita tentang all about me dan di sana saya ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa ketika kita mengikuti perintah Allah dan bersabar, maka Allah akan memberikan banyak keberkahan dalam hidup. Maka, di buku kedua ini terdapat 21 kisah 'gado-gado' yang memiliki bermacam tema, mulai dari cinta Rasulullah, di mana saya mengaku berdusta dulu ketika berucap kalau saya cinta Rasulullah tetapi saya belum merasakannya dari dalam hati, dan karena itu saya berusaha untuk bisa mencintai Rasulullah. Ada juga cerita tentang penghafal Qur'an, berbagi, menuntut ilmu, birrul walidain (ketaatan pada kedua orang tua, red), dan juga pernikahan. Di bab pertama, misalnya, saya menekankan tentang pentingnya bermimpi, bahkan hingga memeluk bulan sekalipun. Sebab, saat ini banyak remaja yang tidak tahu hidupnya mau dibawa ke mana. Setiap orang itu harus memiliki mimpi, karena mimpilah yang menggerakkan orang untuk menjalani hidupnya dengan penuh semangat. Selain itu, ada kisah tentang anak penyandang kanker yang memandang masa depan dengan begitu optimis, ataupun kisah dari kunjungan saya ke penjara.


Tampaknya Oki sering mengunjungi tempat-tempat seperti penjara, rumah sakit jiwa, tempat penyandang cacat, dll. Apa Oki memang secara rutin mengunjungi tempat-tempat itu?
Semuanya tergantung kebutuhan, tidak dijadwalkan secara khusus. Biasanya, saya sendiri yang mencari tempat-tempat yang akan dikunjungi, dan saya sengaja mencari tempat yang masih belum. Sebab, saya merasa itu adalah kebutuhan saya untuk menjadi orang yang bahagia. Membantu orang yang membutuhkan itu laksana memberikan setetes air bagi orang yang kehausan di padang pasir. Ketika kita membuat orang lain bahagia, maka sesungguhnya itulah kebahagiaan kita.


Setelah buku kedua rilis, adakah rencana Oki untuk menulis buku selanjutnya?
Ya. Sekarang, saya sedang mengerjakan buku ketiga dan keempat sekaligus. Alhamdulillah, saya sedang memiliki banyak waktu luang untuk menulis, jadi harus dimanfaatkan. Menulis adalah pekerjaan yang  baik dilakukan oleh perempuan, karena bisa dilakukan di mana saj,a terutama di rumah. Menulis juga mengasah ilmu kita, karena kita harus mencari ilmu baru setiap harinya.


Untuk buku ketiga dan keempat ini, apakah genrenya masih non-fiksi? Atau, Oki mau mencoba memasuki ranah fiksi?
Genrenya masih non-fiksi. Karena saya belajar menulis secara otodidak. Saya tidak pernah ikut latihan penulisan, hanya sering nulis diary saja. Karena itu, bahasanya sederhana. Tapi, justru karena itu maknanya tersampaikan dan lebih menggugah orang. Dan banyak orang yang bilang kalau buku saya itu jujur dari hati. Iniah gaya penulisan saya dan,alhamdulillah, diterima oleh semua orang. Dulu, ketika saya mengisi seminar, yang tertulis pasti “Aktris, Penulis” tetapi sekarang sudah kebalikannya.


Oki sendiri lebih memilih yang mana, diakui sebagai aktris atau penulis?
Tentu kalau dalam ajang bedah buku saya ingin diakui sebagai penulis. Tetapi jika dalam ajang bedah film, tentunya ingin diakui sebagai aktris. Semua tergantung kondisinya. Alhamdulillah, sekarang sudah mulai diakui sebagai penulis, bukan sekadar aktris. Dan itu memberikan semangat tersendiri bagi saya.


Boleh minta bocoran sedikit untuk buku ketiga dan keempat?
Buku ketiga bercerita tentang pengalaman hidup saya selama satu bulan belajar di Mekkah. Saya ingin menulis mengenai bagaimana Mekkah membuat kita lebih cinta sama Allah. Sedangkan buku keempat, saya menulis tentang sahabat dan shahabiyah Rasulullah Saw. Banyak orang yang membutuhkan figur dan idola, sayangnya banyak juga yang lupa bahwa kita sudah memiliki banyak contoh dalam Islam. Meskipun sudah banyak yang menulis buku tentang itu, tetapi di sini saya ingin mengemas tulisan dengan gaya yang pop, bahasa sederhana, dan mencoba membandingkannya dengan keadaan sekarang. Saya ingin menuliskan wanita-wanita anggun dan juga tangguh di zaman Rasulullah, seperti Asma, Fatimah, dll. Saya berharap, ketika Allah membuat orang-orang suka dengan karakter Oki di film, mereka akan mengikuti berita-berita Oki, sehingga kata-kata Oki pun akan lebih didengar oleh mereka. Karena itulah, Oki ingin menggunakannya untuk menyampaikan kebaikan dengan bahasa yang mudah dipahami, khususnya oleh remaja. [Tika/Mizan.com]


  
my muslimah inspiration,smart,beautifull,n calm :)



You Might Also Like

0 komentar

silahkan jika ada saran dan masukan yang membangun...

attention

attention

lets Follow by Email

Translate