PRASANGKA, DISKRIMINASI DAN ETNOSENTRISME

18.31


Author  :  ika amalia s
Kelas    :  1KB02
Npm     :  29110391

TUGAS ISD 8
PRASANGKA, DISKRIMINASI DAN ETNOSENTRISME

 


Tujuan instruksional umum:
mahasiswa dapat menghayati dan memahami da menghayati kenyataan-kenyataan yang disebabkan oleh adanya pertentangan sosia, mengetahui factor-faktor yang dapat pertentangan social, mengkaji pertentangan yang dapat menimbulakn ketegangan social, memahami dan menghayati adanya berbagai golongan yang berbeda-beda, bersamaan dengan integrasi social, mengkaji integrasi social.

JELASKAN:

-
1. Menjelaskan perbedaan kepentingan
-
2.Menjelaskan tentang diskriminasi dan ethosentris
-
3. Menjelaskan pertentangan dan ketegangan dalam masyarakat
-
4.Menyebutkan golongan-golongan yang berbeda dan integrasi social
-
5.Menjelaskan integrasi social



1.PERBEDAAN KEPENTINGAN

Kepentingan merupakan dasar dari timbulnya tingkah laku individu. Individu bertingkah laku karena adanya dorongan untuk memenuhi kepentingannya, sama halnya dengan konflik. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Banyak rakyat dan pemimpin negara yang mempunyai argumen masing-masing untu kepentingannya. Namun Kadang juga secara terioristis, perbedaan kepentingan dapat menimbulkan masalah yang besar bagi orang yang melakukanya. Dipandang sebagai perilaku, konflik merupakan bentuk minteraktif yang terjadi pada tingkatan individual, interpersonal, kelompok atau pada tingkatan organisasi. Konflik ini terutama pada tingkatan individual yang sangat dekat hubungannya dengan stres. Ada pun dibawah ini yang merupakan bagian dari faktor penyebab konflik :

1.       Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
2.       Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi   yang berbeda.
3.       Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.
4.       Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.

Namun dibalik konflik tersebut terdapat sebuah Lubang hitam yang begitu besar yang bisa menghantui siapa saja , dibawah ini merupakan akibat dari konflik :
1.      meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (ingroup) yang mengalami konflik dengan kelompok lain.
2.      keretakan hubungan antar kelompok yang bertikai.
3.      perubahan kepribadian pada individu, misalnya timbulnya rasa dendam, benci, saling curiga dll.


2.1.Pengertian diskriminasi
Diskriminasi secara leksikal adalah perlakuan terhadap orang atau kelompok yang didasarkan pada golongan atau kategori tertentu. Sementara itu dalam pengertian lain diskriminasi dapat diartikan sebagai sebuah perlakuan terhadap individu secara berbeda dengan didasarkan pada gender,ras, agama,umur, atau karakteritik yang lain.
Dari kedua definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa inti dari diskriminasi adalah perlakuan berbeda. Sedangkan pengertian diskriminasi terhadap penyandang cacat atau difabel lebih didasarkan pada kondisi fisik atau kecacatan yang disandangnya. Masyarakat selama ini memperlakukan para difabel secara berbeda lebih didasarkan pada asumsi atau prasangka bahwa dengan kondisi difabel yang kita miliki, kita dianggap tidak mampu melakukan aktifitas sebagaimana orang lain pada umumnya. Perlakuan diskriminasi semacam ini dapat dilihat secara jelas dalam bidang lapangan pekerjaan. Para penyedia lapangan pekerjaan kebanyakan enggan untuk menerima seorang penyandang cacat sebagai karyawan. Mereka berasumsi bahwa seorang penyandang cacat tidak akan mampu melakukan pekerjaan seefektif seperti karyawan lain yang bukan difabel. Sehingga bagi para penyedia lapangan kerja, mempekerjakan para difabel sama artinya dengan mendorong perusahaan dalam jurang kebangkrutan karena harus menyediakan beberapa alat bantu bagi kemudahan para difabel dalam melakukan aktifitasnya. http://cakfu.info/2006/09/diskriminasi-perasaan-atau-realitas/

2.2.Pengertian etnosentris
“ … Etnosentrisme cenderung memandang rendah orang-orang yang dianggap asing, etnosentrisme memandang dan mengukur budaya asing dengan budayanya sendiri. “ ( The Random House Dictionary ).

                Ada satu suku Eskimo yang menyebut diri mereka suku Inuit yang berarti “penduduk sejati” [Herbert, 1973, hal.2]. Sumner menyebutkan pandangan ini sebagai etnosentrisme, yang secara formal didefinisikan sebagai “pandangan bahwa kelompoknya sendiri” adalah pusat segalanya dan semua kelompok lain dibandingkan dan dinilai sesuai dengan standar kelompok tadi [Sumner, 1906, hal.13]. Secara kurang formal etnosentrisme adalah kebiasaan setiap kelompok untuk menganggap kebudayaan kelompoknya sebagai kebudayaan yang paling baik.

                 

Etnosentrisme terjadi jika masing-masing budaya bersikukuh dengan identitasnya, menolak bercampur dengan kebudayaan lain. Porter dan Samovar mendefinisikan etnosentrisme seraya menuturkan, “Sumber utama perbedaan budaya dalam sikap adalah etnosentrisme, yaitu kecenderungan memandang orang lain secara tidak sadar dengan menggunakan kelompok kita sendiri dan kebiasaan kita sendiri sebagai kriteria untuk penilaian. Makin besar kesamaan kita dengan mereka, makin dekat mereka dengan kita; makin besar ketidaksamaan, makin jauh mereka dari kita. Kita cenderung melihat kelompok kita, negeri kita, budaya kita sendiri, sebagai yang paling baik, sebagai yang paling bermoral.”

                Etnosentrisme membuat kebudayaan kita sebagai patokan untuk mengukur baik-buruknya kebudayaan lain dalam proporsi kemiripannya dengan budaya kita. Ini dinyatakaan dalam ungkapan : “orang-orang terpilih”, “progresif”, “ras yang unggul”, dan sebagainya. Biasanya kita cepat mengenali sifat etnosentris pada orang lain dan lambat mengenalinya pada diri sendiri.
Sebagian besar, meskipun tidak semuanya, kelompok dalam suatu masyarakat bersifat etnosentrisme. Semua kelompok merangsang pertumbuhan etnosentrisme, tetapi tidak semua anggota kelompok sama etnosentris. Sebagian dari kita adalah sangat etnosentris untuk mengimbangi kekurangan-kekurangan kita sendiri. Kadang-kadang dipercaya bahwa ilmu sosial telah membentuk kaitan erat antara pola kepribadian dan etnosentrisme.

                Kecenderungan etnosentrisme berkaitan erat dengan kemampuan belajar dan berprestasi. Dalam buku The Authoritarian Personality, Adorno (1950) menemukan bahwa orang-orang etnosentris cenderung kurang terpelajar, kurang bergaul, dan pemeluk agama yang fanatik. Dalam pendekatan ini, etnosentrisme didefinisikan terutama sebagai kesetiaan yang kuat dan tanpa kritik pada kelompok etnis atau bangsa sendiri disertai prasangka terhadap kelompok etnis dan bangsa lain. Yang artinya orang yang etnosentris susah berasimilasi dengan bangsa lain, bahkan dalam proses belajar-mengajar.
Etnosentrisme akan terus marak apabila pemiliknya tidak mampu melihat human encounter sebagai peluang untuk saling belajar dan meningkatkan kecerdasan, yang selanjutnya bermuara pada prestasi. Sebaliknya, kelompok etnis yang mampu menggunakan perjumpaan mereka dengan kelompok-kelompok lain dengan sebaik-baiknya, di mana pun tempat terjadinya, justru akan makin meninggalkan etnosentrisme. Kelompok semacam itu mampu berprestasi dan menatap masa depan dengan cerah.
Etnosentrisme mungkin memiliki daya tarik karena faham tersebut mengukuhkan kembali “keanggotaan” seseorang dalam kelompok sambil memberikan penjelasan sederhana yang cukup menyenangkan tentang gejala sosial yang pelik. Kalangan kolot, yang terasing dari masyarakat, yang kurang berpendidikan, dan yang secara politis konservatif bisa saja bersikap etnosentris, tetapi juga kaum muda, kaum yang berpendidikan baik, yang bepergian jauh, yang berhaluan politik “kiri” dan yang kaya [Ray, 1971; Wilson et al, 1976]. Masih dapat diperdebatkan apakah ada suatu variasi yang signifikan, berdasarkan latar belakang sosial atau jenis kepribadian, dalam kadar etnosentris seseorang. http://lhyta.blogspot.com/2009/08/pengertian-etnosentrisme-dan.html

3.Masyarakat Pertentangan dan Ketegangan Dalam Masyarakat

            Konflik mengandung pengertian tingkah laku yang lebih luas daripada yang biasa dibayangkan orang dengan mengartikannya sebagai pertentangan yang kasar atau perang. Dalam hal ini terdapat tiga elemen dasar yang merupakan ciri dari situasi konflik, yaitu :
1.   terdapat dua atau lebih unit-unit atau bagian yang terlibat dalam konflik.
2.   Unit-unit tersebut mempunyai perbedaan-perbedaan yang tajam dalam  kebutuhan, tujuan, masalah, sikap, maupun gagasan-gagasan.
3.   Terdapat interaksi diantara bagian-bagian yang mempunyai perbedaan tersebut.
          
  Konflik merupakan suatu tingkah laku yang dibedakan dengan emosi-emosi tertentu yang sering dihubungkan dengan kebencian atau permusuhan, konflik dapat terjadi pada lingkungan :
a. pada taraf di dalam diri seseorang, konflik menunjuk adanya pertentangan, ketidakpastian atau emosi dan dorongan yang antagonistic dalam diri seseorang.
b. pada taraf kelompok, konflik ditimbulkan dari konflik yang terjadi dalam diri individu, dari perbedaan pada para anggota kelompok dalam tujuan, nilai-nilai dan norma, motivasi untuk menjadi anggota kelompok, serta minat mereka.
c.pada taraf masyarakat, konflik juga bersumber pada perbedaan antara nilai-nilai dan norma-norma kelompok dengan nilai-nilai dan norma-norma dimana kelompok yang bersangkutan berada
4.Golongan-golongan yang Berbeda dan Integrasi Sosial

a. Masyarakat Majemuk dan National Indonesia terdiri dari :
Masyarakat Indonesia digolongkan sebagai masyarakat majemuk yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan golongan sosial yang dipersatukan oleh kesatuan nasional yang berwujudkan Negara Indonesia. Aspek-aspek dari kemasyarakatan :
1.Suku bangsa dan kebudayaannya.
2. Agama
3. Bahasa
4. Nasional Indonesia.

b. Integritas
variabel-variabel yang dapat menghambat dalam integritas adalah :
1. Klaim/tuntutan penguasaan atas wilayah-wilayah yang dianggap sebagai miliknya
2. Isu asli tidak asli, berkaitan dengan perbedaan kehidupan ekonomi.
3. Agama, sentimen agama dapat digerakkan untuk mempertajam perbedaan kesukuan
4. Prasangka yang merupakan sikap permusuhan terhadap seseorang anggota golongan

c. Integrasi Sosial 
Integrasi Sosial adalah merupakan proses penyesuaian unsur-unsur yang berbeda dalam masyarakat menjadi satu kesatuan. Unsur yang berbeda tersebut meliputi perbedaan kedudukan sosial,ras, etnik, agama, bahasa, nilai, dan norma


5.Menjelaskan Tentang Integrasi Nasional

merupakan masalah yang dialami semua negara didunia, yang berbeda adalah bentuk permasalahan yang dihadapinya.

1. Di bawah ini beberapa permasalahan integrasi nasional :
    - Perbedaan Ideologi
    - Kondisi masyarakat yang majemuk
    - Masalah teritorial daerah yang berjarak cukup jauh
    - Pertumbuhan partai politik

2. Upaya Pendekatan
    - Mempertebal keyakinan seluruh warga negara terhadap ideologi nasional
    - Membuka isolasi antar berbagai kelompok etnis.
    - Menggali kebudayaan daerah untuk menjadi kebudayaan nasional
    - Membentuk jaringan asimilasi bagi berbagai kelompok etnis pribumi

Diambil dari:

study kasus…
Deskriminasi dan etnosentrisme memang tidak dapat kita sembunyikan diIndonesia ini,dalam pemraktekannya ternyata diskriminasi ini memang banyak terjadi dikehidupan kita.mungkin ini karna bangsa kita yang sudah tidak atau kurang menjunjung tinggi lagi semboyan Negara kita yaitu “bhineka tunggal ika” jika masyarakat menyadari betul kesamaan kedudukan tiap manusia,baik dalam masyarakat maupun dalam hukum,maka seharusnya tindak deskriminasi dan etnosentisme ini tidak lah seharusnya terjadi.
Contoh nyata nya saja yang kita ketahui,bahwasannya orang penyandang cacat itu amat terdeskriminasi karna kekurangan fisik yang dimilikinya,sedikit sekali bahkan sangat jarang perusahaan yang meenerima karyawan yang memiliki kekuranggan fisik,karna menurut mereka mengambil resiko ini sama juga membuat satu masalah bagi perusahaan mereka,padahal tidak sepenuhnya persangkaan ini benar,bahkan sebenarnya banyak dari para penyandang cacat ini mempunyai skill dan kemampuan yang melebihi orang-orang normal pada umumnya.
Untung saja para penyandang cacat ini tidak berputus asa dengan kekurangan yang mereka miliki,buktinya banyak diantara mereka yang bangkit dan memulai usahanya sendiri,dimana mereka memodalkan uang yang dimilikinya untuk usaha mikro yang bisa membuahkan penghasilan untuk mereka.
Dari sifat pantang menyerah inilah,mereka yang betul-betul gigih memdapatkan hasil yang sangat cukup bagi kehidupan mereka,bahkan tidak jarang dari mereka yang memulai usahanya dari usaha mikro,kini berkembang dan terus berkembang menjadi usaha makro.sungguh luar biasa,sengat yang gigih,ketekunan,dan keuletan yang tiada henti mampu membawa mereka menjadi seorang yang disegani,dan bisa membuktikan pada orang lain bahwa kekurangan yang mereka miliki bukanlah akhir dari hidup mereka,bahkan mereka menganggap nya sebagai sebuah anugerah dari tuhan untuknya…sungguh luarbiasa…
Dari sini kita bisa mengambil pelajaran dan mencontoh semangat yang dimiliki oleh orang-orang ini,dimana mereka yang mempunyai kekurangan saja dapat meraih kesuksesan tanpa harus menjadi peminta-minta dijalanan,mengapa kita yang notabennya sehat dan kuat dalam jiwa Maupun raga menjadi malas-malasan dan menjadi orang yang selalu dihantui dengan kepesimisan dalam menghadapi masa depan??? Tatkala manusia ingin berusaha,berjuang tanpa henti,dan tentunya berdoa,niscaya manusia itu akan dimudahkan jalan yang ia tuju oleh allah swt.maka dari itu janganlah sedikitpun kita mendeskriminasikan dan menetnosentriskan siapapun yang kita anggap ia lebih rendah dari kita,karna bisa jadi orang yang kita anggap rendah itu tidak lebih buruk dari kita,karna sesungguhnya manusia itu sama dihadapan tuhannya,dan yang bisa membedakan mereka bukanlah harta,tahta,popularitas,atau kewibawaannya,namun yang dapat membedakan kita satu sama lain dihadapan tuhan hanyalah keimanan kita samata,maka berlomba-lombalah kita menjadi mahkluk tuhan yang beriman,dan menjauhi sejauh-jauhnya sikap diskriminasi dan etnosentrisme.(ikAmalia) 

You Might Also Like

0 komentar

silahkan jika ada saran dan masukan yang membangun...

attention

attention

lets Follow by Email

Translate